Halaman

Label

Selasa, 05 Maret 2013

MODEL PEMBELAJARAN OPEN ENDED




BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Pemerintah telah banyak melakukan upaya untuk memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia. Namun keluhan tentang kesulitan belajar masih banyak dijumpai. Khususnya pada mata pelajaran matematika yang kebanyakan orang atau siswa menyebutnya sebagai momok. Kesulitan belajar yang timbul tersebut tidak semata-mata karena tingkat kesulitan materi bagi siswa tetapi juga karena cara penyampaian materi oleh guru. Ada berbagai model pembelajaran yang bisa diterapkan oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran.
Guru diharapkan dapat memilih salah satu model pembelajaran yang juga merupakan fokus kajian penelitian ini adalah open ended. Pendekatan open ended merupakan suatu metode yang dapat memberi keleluasan kepada siswa untuk berpikir secara aktif dan kreatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan, sehingga bermanfaat untuk meningkatkan cara berpikir siswa .
Dalam pendekatan ini siswa dihadapkan pada permasalahan yang penyelesaiannya tidak perlu hanya satu, sehingga diharapkan kreativitas siswa dapat berkembang. Pendekatan open ended juga dapat membangkitkan nalar siswa sehingga siswa kreatif dan akhirnya diharapkan siswa dapat berpikir logis dan kritis. Pembelajaran dengan pendekatan open ended diawali dengan memberikan masalah terbuka kepada siswa.
Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan membawa siswa dalam menjawab masalah dengan banyak cara serta
mungkin juga dengan banyak jawaban (yang benar), sehingga merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru. Pendekatan open ended menjanjikan kepada suatu kesempatan kepada siswa untuk meginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan mengelaborasi permasalahan.
Tujuannya tiada lain adalah agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan kreatif dari setiap siswa terkomunikasi melalui proses pembelajaran. Inilah yang menjadi pokok pikiran pembelajaran dengan open ended yaitu pembelajaran yang membangun kegiatan interaktif antara matematika dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi.
  1. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran Open Ended?
2. Apa saja prinsip-prinsip yang terdapat dalam model pembelajaran Open Ended?
3. Bagaimanakah kelemahan dan kelebihan model pembelajaran Open Ended?
4. Bagaimanakah langkah-langkah model pembelajaran Open Ended?
  1. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui makna model pembelajaran Open Ended.
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip model pembelajaran Open Ended.
3. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan model pembelajaran Open Ended.
4. Untuk mengetahui langkah-langkah model pembelajaran Open Ended.









BAB II
MODEL PEMBELAJARAN OPEN ENDED
  1. Pengertian Open Ended
Pendekatan open ended berasal dari Jepang pada tahun 1970 an. Antara tahun 1971 dan 1976, peneliti Jepang melaksanakan serangkaian proyek penelitian pengembangan dalam metode mengevaluasi keterampilan “berpikir tingkat tinggi” dalam pendidikan matematika dengan menggunakan sries open ended pada tema tertentu. Pendekatan ini dimulai dengan melibatkan siswa dalam masalah open ended yang mana didesain dengan berbagai jawaban benar “tidak lengkap” atau open ended.
Menurut Sudiarta (Poppy, 2002 : 2) menyatakan bahwa secara konseptual open ended problem dapat dirumuskan sebagai masalah atau soal-soal matematika yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memiliki beberapa atau banyak solusi yang benar, dan terdapat banyak cara untuk mencapai soal itu.
Menurut Takahashi (2006), soal terbuka (open-ended problem) adalah soal yang mempunyai banyak solusi atau strategi penyelesaian. Sedangkan menurut Syaban (2008), dipandang dari strategi bagaimana materi pelajaran disampaikan, pada prinsipnya pembelajaran dengan memanfaatkan soal terbuka dapat dipandang sebagai pembelajaran berbasis masalah, yaitu suatu pembelajaran yang dalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah kepada siswa.
Menurut Shimada dan Becker (dalam Salamah, 2003: 12) pendekatan open-ended adalah pendekatan pembelajaran matematika yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang lebih dari satu. Jadi, pendekatan open-ended adalah pembelajaran terbuka dimana siswa dapat menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan jawaban yang benar, bahkan siswa bias memperoleh lebih dari satu jawaban yang benar. Sehingga open ended dapat memberi kepercayaan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan/pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beberapa teknik atau cara tertentu.
Pada dasarnya, pendekatan open ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. Oleh karena itu, hal yang perlu diperhatikan adalah kebebasan siswa untuk berpikir dalam membuat progress pemecahan sesuai dengan kemampuan, sikap, dan minatnya, sehingga pada akhirnya akan membentuk intelegensi matematika siswa.
Pembelajaran dengan pendekatan Open-ended diawali dengan memberikan masalah terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan mengantarkan siswa dalam menjawab masalah dengan banyak cara serta mungkin juga dengan banyak jawaban yang benar, sehingga merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru.
Pendekatan Pembelajaran open ­ended adalah pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Open ­Ended Problems merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu. Sehingga dengan mengutip pemikiran model pembelajaran Open ­Ended Problems dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beberapa teknik.
Pada model pembelajaran Open­ Ended Problems masalah yang diberikan adalah masalah yang bersifat terbuka (Open ­Ended Problem) atau masalah tidak lengkap (Incomplete Problem). Sifat keterbukaan dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut.
  1. Prinsip-prinsip Model Pembelajaran Open Ended
Open ended memiliki keterbukaan. Menurut Dahlan (dalam Haryani : 2007 : 13). Keterbukaan dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Proses terbuka
Maksudnya adalah masalah atau soal yang diberikan, memiliki banyak cara penyelesaian yang benar.
2. Hasil Akhir Terbuka
Maksudnya adalah masalah yang memiliki jawaban yang benar.
3. Cara Pengembangan Lanjutan Terbuka
Maksudnya ketika siswa telah menyelesaikan masalahnya, mereka dapat mengembangkan masalah baru yaitu dengan cara merubah kondisi masalahnya.
  1. Kelemahan dan Kelebihan Model Pembelajaran Open Ended
Tim MKPBM (2001 : 121) mengemukakan kelebihan dan kelemahan pendekatan open ended, yakni sebagai berikut :
1. Kelebihan model pembelajaran open ended
a. Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.
b. Siswa memiliki kesempatan matematika secara komprehensip.
c. Siswa dengan keterampilan dan kemampuan matematika yang rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
d. Secara intrinsik siswa dapat termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
e. Siswa memiliki pengalaman untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.
2. Kekurangan model pembelajaran open ended
a. Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan yang mudah.
b. Mengemukakan masalah yang langsung dipahami siswa sangat sulit, sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
c. Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
d. Mungkin ada sebagian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.
Sedangkan menurut Suherman, dkk (2003:132) memiliki beberapa keunggulan antara lain sebagai berikut:
a) Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.
b) Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematik secara komprehensif.
c) Siswa dengan kemapuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.
d) Siswa secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.
e) Siswa memiliki pengelaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.
Terdapat pula kelemahannya antara lain:
a) Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan mudah.
b) Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.
c) Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan jawaban mereka.
d) Mungkin ada sebagaian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar mereka mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka hadapi.
Untuk model penilaian soal open-ended diberikan alternatif penilaian dengan menggunakan skala Linkert (Metagora, 2008). Untuk itu harus ditetapkan kriteria penilaian berdasarkan skor, contoh penyekoran: skor 0 diberikan untuk jawaban dan alasan yang kedua-duanya salah, skor 1 diberikan untuk jawaban yang benar tetapi alasan salah dan skor 2 diberikan untuk jawaban dan alasan yang kedua-duanya benar. Masih banyak alternatif penilaian lain yang dapat dikembangkan oleh guru untuk menilai jawaban siswa dengan jenis soal open-ended. Untuk itu diperlukan kreativitas guru tidak saja untuk menyusun dan mengembangkan model penilaian, tetapi juga menyusun dan mengembangkan soal-soal open-ended.
  1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Open Ended
Menurut Eko Prasetyo (2010), langkah-langkah pembelajaran matematika berbasis open ended adalah sebagai berikut :
1. Pembelajaran problem open ended dimulai dengan memberikan problem terbuka kepada peserta didik, problem tersebut dirasakan mampu diselesaikan peserta didik dengan banyak cara dan mungkin juga banyak jawaban sehingga memacu potensi intelektual dan pengalaman peserta didik dalam proses menemukan pengetahuan baru.
2. Peserta didik melakukan beragam aktifitas untuk menjawab problem yang diberikan.
3. Berikan waktu yang cukup kepada peserta didik untuk mengeksplorasi problem.
4. Peserta didik membuat rangkuman dari proses penemuan yang mereka lakukan.
5. Diskusi kelas mengenai strategi dan pemecahan masalah dari problem serta penyimpulan dengan bimbingan guru.
Menurut Suherman, dkk (2003: 114) mengemukakan bahwa dalam kegiatan matematika dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut :
a. Kegiatan siswaharus terbuka. Yang dimaksud kegiatan siswa harus terbuka adalah kegiatan pembelajaran harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.
b. Kegiatan matematika merupakan ragam berpikir. Kegiatan matematika adalah kegiatan yang didalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari kedalam dunia matematika atau sebaliknya.
c. Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan satu kesatuan. Dalam pembelajaran matematika, guru diharapkan dapat mengangkat pemahaman dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan individu. Meskipun pada umumnya guru akan mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan pengalaman dan pertimbangan masing-masing. Guru bisa membelajarkan siswa melalui kegiatan-kegiatan matematika tingkat tinggi yang sistematis atau melalui kegiatan-kegiatan matematika yang mendasar untuk melayani siswa yang kemampuannya rendah.











































































Comments
1 Comments

1 komentar: